Kamis, 03 April 2014

Andai Aku tak disisimu…

Rabu, 2 April 2014

Ayah.. ibu…
Aku tau aku telah usai menempuh studi strata satu ku..
Namun, hampir selama satu tahun ini pula aku belum jua dapatkan kerja..
Orang bilang, memang suatu momok bagi seorang sarjana jika belum bekerja..
Apalagi dalam lingkup yang masih kampungan seperti desa ini..
Tempat tinggal ini,
Tempat ini,
Disini, dimana aku dididik, dibina, diarahkan dan dibesarkan oleh kasih sayangmu..

Satu pekan, dua pekan aku lewati..
Jujur, pertama aku mengalami hal itu, aku teramat malu, sedih dan bingung..
Dalam benak aku berfikir,
Apakah aku anak tak berguna???
Apakah perjuanganku dan dukungan mereka sia-sia sampai disini saja?
Aku takut, aku malu..
Aku malu ketika orang tua ku disambut dengan pertanyaan,
“anaknya udah sarjana yah? Kerja dimana?”
Sambil mengerenyitkan dahi dalam benak ini terlitas asumsi,
Bahwa hidup ini kejam, tuhan itu tak adil..
Sampai suatu saat aku bertanya pada ibuku..
Ibu,,,
Apakah hidup itu sesulit ini???
Ketika mereka yang tak layak tertawa lantang dikursi sipilnya..
Sementara aku disini, didera perih, pilu dan malu..
Ataukan aku yang tak berguna kah???
Seperti itulah paradigma pemikiran dangkal ku beberapa pekan..
Sampai suatu saat aku dipertemukan dengan sebuah buku..
Catatan sederhana yang menyadarkanku, dari kekeliruan hidup..
Bahwa aku adalah orang yang beruntung,
Bahwa aku adalah satu dari ribuan orang,
Bahwa aku adalah satu yang menyadari,
Tentang arti sederhana dari kebersamaan…
Kini aku yakin, bahwa aku disini, selalu ada disismu, ibu..
Tidaklah sia-sia, tidaklah membuatmu malu..
Sebab, kapan lagi aku memiliki waktu bersama denganmu?
Saat kelak nanti telah disibukan oleh hiruk pikuk pekerjaan..
Saat kelak telah disemrawutkan oleh urusan pendidikan..
Saat nanti, mungkin jarak kembali memisahkan kita..
Namun disisi lain, umur mu semakin bertambah tak henti,
Badanmu semakin tua, dan renta..
Memang dulu, dari semenjak aku dilahirkan,
Aku selalu habiskan waktu denganmu..
Tapi, itu adalah saat dimana aku tak sadar akan keberadaanmu yang sesaat..
Tak sadar akan berlarinya sang waktu yang begitu kencang memakan usia..
Tak sadar bahwa kita akan dipisahkan sesaat setelah dipertemukan..
Saat itu, aku mungkin hanya bisa membuatmu marah..
Hanya bisa membuatmu sedih..
Hanya bisa membuatmu pusing dengan tingkahku..
Namun sekarang, aku sadar..
Aku memiliki banyak waktu denganmu..
Disaat aku telah dewasa,
Sadar, mengerti keadaan, dan belum terganggu oleh ragam kesibukan..
Disinilah saatnya aku selalu berada disisimu,
Dengan tulus, membantu, memanjakan dan menghabiskan waktu denganmu..
Yang tak semua orang bisa lakukan,
Yang tak semua orang bisa sadari,
Yang tak semua orang bisa dapatkan…
Saat ini aku berharap,
Semoga aku adalah anak yang paling beruntung,
Dapat menghabiskan waktu bersamamu, orangtuaku..
Menikmati setiap detik kehidupan..
Tanpa dihalangi kesibukan yang datang tak menentu..
Dan,
Ketika aku akan beranjak, kembali tersirat dalam benakku..
Andai aku sudah tak disisimu lagi,
Akankah ada yang selalu siaga membantu ketika perlengkapan dapur tak cukup memadai untuk sajikan makanan disiang hari?
Akankah ada yang siap siaga dengan sigap membantu ketika kebutuhan rumah ada yang belum terpenuhi?
Adakah yang sigap melangkah membeli segelintir cemilan saat senja hari datang dan anggota keluarga berkumpul digubuk kecil?
Adakah yang selalu ada memijatmu ketika lelah datang dan kepala mulai terasa nyeri kembali?
Adakah yang selalu dengan senyum manis mendengarkan keluh kesah gemericik kejamnya realita kehidupan yang selalu bernada dari bibirmu?
Lalu, siapa nanti yang membelikan barang-barang diwarung kecilmu saat stoknya mulai habis?
Mengantarkan adik-adikku ketika akan beranjak mengenyam pendidikan?
Sekedar berceloteh membuat bibirmu yang tertekuk kebawah menjadi telihat manis dengan gigi kuning langsatmu?
Akankah ada yang selalu membuatmu marah dan jengkel dengan gelak tawa dan kalimat-kalimat yang sumbang?
Apakah itu semua bisa digantikan dengan uang?
Apakah uang bisa menjadi tempatmu bersandar?
Mungkin uang bisa mengeluarkan suara barangkali?
Mungkin, meskipun hektaran lahan luas terisi penuh rupiah dengan nominal tak hingga, engaku masih tetap kesepian..
Ditinggalkan suara sumbang yang mulai beranjak pergi dan hilang..
Dan, sekarang..
Andai aku tak disisimu,
Akankah ada aku yang lain, yang mau menggantikan?
Atau tangan, kaki, mata, fikiran, dan bibir yang lain yang sepadan?
Atau bahkan jauh lebih baik???
Andai aku tak disisimu. . . lagi……………………………………
 Akankah …………………………………………………………………………

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Siip.. (y) kisah simpel namun mengandung makna yg dalam..

Fajrin M. Ligor mengatakan...

makasih,, :)

Posting Komentar

 
;